Hamparan Pasir di Dunia

Gurun Sahara Dulu Hijau dan Penuh Hewan

ilustrasi gurun sahara

JAKARTA--(KIBLATRIAU.COM)-- Gurun Sahara dikenal sebagai hamparan pasir terbesar di dunia yang kering dan panas. Namun, para ilmuwan mengungkap bahwa bentang alam tersebut ternyata tidak selalu berupa gurun. Sekitar setiap 20.000 tahun,  Sahara mengalami periode ketika wilayah itu berubah menjadi padang rumput hijau yang dipenuhi sungai, danau, serta satwa seperti kuda nil dan buaya.Fenomena ini dikenal sebagai Green Sahara atau Sahara Hijau. Pada masa tersebut, sebagian besar  
Afrika Utara berubah menjadi lanskap yang didominasi padang rumput, sabana, lahan basah, dan danau. Manusia juga bermukim di sekitar sumber air, sementara ikan, buaya, dan kuda nil hidup di kawasan yang kini menjadi salah satu tempat paling  
gersang di Bumi.

Penyebab utamanya bukan perubahan cuaca sesaat, melainkan perubahan lambat pada orbit Bumi. Para ilmuwan menjelaskan bahwa sumbu rotasi Bumi mengalami gerakan seperti gasing yang berputar, dikenal sebagai presesi, dengan siklus sekitar 19.000  hingga 23.000 tahun.Ketika posisi orbit berada pada fase yang mendukung, Belahan Bumi Utara menerima sinar Matahari musim panas lebih kuat. Daratan Afrika Utara memanas lebih cepat dibanding Samudra Atlantik sehingga angin muson membawa  lebih banyak uap air jauh ke pedalaman Sahara.Curah hujan yang meningkat membuat vegetasi tumbuh subur dan cekungan-cekungan terisi air hingga membentuk danau. Tumbuhan yang berkembang juga memperkuat kondisi tersebut karena permukaan  
yang hijau menyerap lebih banyak energi Matahari, tanah mampu menyimpan lebih banyak air, dan jumlah debu yang beterbangan berkurang sehingga hujan semakin mudah terbentuk.

Para peneliti menegaskan bahwa siklus 20.000 tahun bukanlah 'sakelar' yang otomatis mengubah seluruh Sahara menjadi hijau. Menurut laporan yang dikutip dari Space Daily, Sabtu (25/7/2026) perubahan orbit Bumi hanya menjadi pemicu awal. Seberapa  hijau Sahara pada akhirnya juga ditentukan oleh berbagai faktor lain, seperti suhu samudra, keberadaan lapisan es, vegetasi, hingga jumlah debu di atmosfer.Bukti geologi menunjukkan Sahara Hijau bukan sekadar teori. Citra satelit memperlihatkan bekas  aliran sungai purba yang kini terkubur pasir. Salah satunya adalah Sungai Tamanrasset, sistem sungai besar yang dahulu mengalir melintasi Sahara Barat hingga bermuara ke Samudra Atlantik.

Pada periode lembap tersebut juga terbentuk Mega-Chad, danau purba yang luasnya mencapai lebih dari 350.000 kilometer persegi, hampir menyamai luas Laut Kaspia saat ini. Selain itu, terdapat banyak danau lain yang tersebar di berbagai bagian gurun.Keberadaan satwa air di Sahara tidak hanya diketahui dari lukisan batu prasejarah, tetapi juga dari temuan arkeologi. Di situs Gobero di Niger, arkeolog menemukan sekitar 200 makam manusia di tepi danau purba, lengkap dengan sisa-sisa tulang kuda nil,  ikan, kura-kura, dan hewan air lainnya.

Sementara di Takarkori, Libya barat daya, para peneliti mengidentifikasi lebih dari 17.500 sisa tulang hewan, termasuk sisik kulit dan fragmen tengkorak buaya. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Sahara pernah menjadi ekosistem yang kaya akan  sumber air dan kehidupan, jauh berbeda dengan gurun tandus yang dikenal saat ini.Meski siklus orbit Bumi akan terus berlangsung, ilmuwan mengatakan tidak mungkin menentukan kapan Sahara akan kembali menghijau. Pasalnya, mekanika orbit tidak  dapat digunakan untuk menentukan tanggal kapan Sahara akan kembali hijau.

Hal itu karena selain dipengaruhi presesi orbit, kondisi Sahara juga ditentukan oleh suhu permukaan laut, sirkulasi Samudra Atlantik, konsentrasi karbon dioksida, vegetasi, debu, hingga perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Dengan kata lain, meski Bumi  kembali memasuki fase orbit yang menguntungkan, belum tentu Sahara akan berubah menjadi bentang alam hijau seperti pada ribuan tahun lalu.(Net/Hen)

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar